
Konon ibu-ibu jaman sekarang semakin susah memproduksi ASI, saya tak tahu sebabnya kenapa ASI tak mau keluar dari “pabrik”. Dan tak menutup kemungkinan, ada ibu yang emoh menyusui bayinya sendiri. Maka, si bayi dikasih susu formula yang diolah dari susu sapi. Anak manusia kok disusui sapi? Sebuah satire yang coba disuarakan oleh iklan kampanye Unicef di atas. Si bayi yang tak pernah mendapat ASI dari sang ibu dan cuma dikasih susu formula, kadung menganggap sang sapi sebagai ibunya. Gila!
Padahal menyusui atau
breastfeeding efeknya tak cuma baik untuk si bayi tapi juga untuk si ibu, karena
breastfeeding bisa menurunkan resiko seorang wanita terkena kanker payudara. Lagipula dengan menyusui, orangtua si bayi bisa ngirit, bukankah ASI itu gratis. Bandingkan saja dengan susu formula yang mahalnya bukan main.
Di pedesaan saya masih sering menjumpai ibu-ibu menyusui anaknya di tempat umum, kesannya agak kurang sopan memang, tapi orang-orang di sekitar bisa maklum karena si bayi yang kehausan atau kelaparan belum bisa diajak kompromi. Ini adalah salah satu bentuk kasih sayang ibu kepada anaknya. Dan ibu-ibu yang menyusui anaknya di tempat umum seperti itu juga tidak membuat pikiran kotor saya terpancing, justru membuat saya sungkan. Dalam situasi seperti itu saya lebih memilih untuk pergi, dengan maksud memberi ibu itu sedikit ruang privasi.
Jika selama ini di gedung-gedung perkantoran, kantor pelayanan publik, atau mall hanya menyediakan
smooking room, maka gagasan untuk menyediakan ruang menyusui atau
lactation room bukan tak mungkin juga perlu direalisasikan.
Ayo ibu-ibu Indonesia, susui bayi anda!

Iklan direpro dari KOMPAS (23/7).