Saat kata-kata tak lagi mempan, imej pun mengambil alih peranan

Banyak cara untuk mengingatkan sesama, menuju kebaikan tentunya, bukan malah mengajak ke lembah dosa. Namanya juga mengingatkan, bukan menjerumuskan. “Ngajak golek dalan padhang”, orang Jawa bilang. Hari Minggu, jalanan agak lengang, mungkin orang-orang lebih memilih ngendon dan ‘angrem’ di rumah. Di siang yang cerah dan panas itu saya melintas di daerah Pasar Kliwon, daerah ini terkenal sebagai kampung Arab-nya Kota Solo. Dan saya menemukan spanduk ini, kalimatnya memang sudah biasa terdengar dan terbaca, banyak bertebaran dimana-mana, di musholla hingga blog, “Sholatlah sebelum Anda disholatkan”. Tapi rupanya, bagi orang pokrol seperti saya, kata-kata seperti itu cuman masuk lewat kuping kiri, dan keluar lewat kuping kiri lagi. Kok keluar lewat kuping kiri lagi? Iya, kalo keluar kuping kanan, pasti masih ada ‘ampas-ampasnya’ di salah satu partisi memori. Lha kalo keluar lewat kuping kiri lagi, tak ada ampas yang tertinggal. Lalu kita pun biasa berlindung dibalik kata lalai, lupa, dan alpa. Saat kata-kata tak bisa lagi berperan banyak, maka imej, gambar, dan visual pun dihadirkan. Ya, foto sebuah bandoso (keranda) dan jenasah yang sudah dikafani pun hadir di bawah kalimat itu. Sungguh tajam pesan yang disampaikan, dan apa adanya. Shock therapy, bung! Bagi yang melihat diharapkan bisa merenung, sekaligus mengingat. Tak perlu ada yang tersinggung, kebenaran kadang memang terasa pahit. Masing-masing individu dituntut untuk ngilo githoke dewe, menilai diri sendiri, tak perlu lah nduding orang lain. Mengingatkan bukan berarti memaksakan. Biarlah masing-masing individu mendapatkan pencerahannya. Sebuah pencerahan spiritual yang bersifat personal, yang tentu saja tak bisa dipaksakan. Anda dan saya bisa saling mengingatkan... PS: Jujur sholat saya masih banyak bolongnya, terutama sholat Subuh :( © Foto: Dony Alfan
Blog cemen kok di-review  Sekitar setahun yang lalu saya bikin dua blog di Blogger.com, yakni blog Putradaerah –yang kacangan itu – dan blog Dolan ke Solo. Blog yang terakhir itu entah saya dapat inspirasi dari mana untuk membuatnya, awal dibuat isinya cuman standar saja, tidak ada yang istimewa. Baru beberapa bulan ini, blog tersebut tergarap dengan agak tenanan, langkah pertama adalah mengganti tampilannya, agar orang mau melirik. Kedua, adalah rajin posting tentang hal-hal yang berkaitan dengan turisme di kota Solo dan sekitarnya (Soloraya). Karena merasa tak lagi mampu untuk menanganinya sendirian, saya mulai mengajak dan memaksa Sigit Nugroho dan Sayur agar mau menulis di blog itu . Blogger lain seperti Blontank Poer dan Adia Prabowo juga pernah saya “bajak” tulisan dan foto-fotonya untuk blog Dolan ke Solo, tentu dengan ijin dari mereka. Saya kaget saat Fiz memberi tahu lewat shoutbox bahwa blog Dolan ke Solo di-review oleh tabloid PC Mild. Sepulang dari warnet saya langsung cari tabloid itu, ternyata blog Dolan ke Solo memang di-review dalam tabloid PC Mild edisi 05/2008. Saya sendiri sebenarnya justru malu, masak blog abal dan masih ‘ngontrak’ kayak gitu bisa nongol di tabloid. Dulu saya sempat rasan-rasan dengan si Sigit untuk lebih serius menangani blog tersebut, misalnya dengan membeli domain, lalu membuatnya menjadi versi dua bahasa (Indonesia dan Inggris), bahkan sampai membahas tentang marketing-nya. Pokoknya meniru konsep Yogyes.com yang digarap dengan apik itu. Rasan-rasan saya itu baru sebatas wacana, yang sekarang menguap entah kemana. Uang di kantong tak cukup untuk membeli domain, apalagi hosting-nya. Belum lagi desain web yang konon mahal, kecuali kalo pake template gratisan, hehe. Saya bukanlah sosok galgendu yang duitnya meteran maupun kiloan. Kere berlagak jadi kaya itu lebih sulit dilakoni ketimbang sebaliknya. Maka dari itu, saya masih menunggu uluran tangan maupun donasi dari pihak lain, terutama putra daerah asal Soloraya. Yah, siapa tahu ada yang peduli, dan seumpama nantinya cukup menjanjikan alias iso kanggo golek duit, mungkin saya tidak perlu bingung mencari pekerjaan setelah lulus kuliah nanti, hehe...big dream in my head.... Terima kasih PC Mild! Terima kasih juga kepada Sigit, Sayur, Mas Blontank, dan Adia (sory ya, foto jepretanmu dipake buat header tanpa ijin)...
Ada yang menyusul setelah Sindo dan Kompas
 Setiap detik, di bumi ini selalu saja ada peristiwa yang layak diberitakan. Tuntutan di jaman modern, khalayak butuh update informasi secepat mungkin, maka radio, televisi, dan internet pun hadir untuk memenuhi tuntutan itu. Bagaimana dengan koran? Ya, media cetak itu ternyata belum punah tergerus oleh media yang lebih canggih. Mulai Senin (25/2) kemarin Media Indonesia (MI) terbit dua kali dalam sehari, edisi pagi (reguler) dan edisi siang. Apa yang dilakukan Media Indonesia ini sebenarnya bukan terobosan baru, Seputar Indonesia (Sindo) adalah koran pertama yang terbit dua kali, kemudian disusul Kompas dengan edisi Update yang cuman seribu rupiah itu.
Sayangnya saya belum pernah membaca MI edisi siang, saya tahunya juga cuma dari iklan di dalam MI edisi pagi, jadi belum bisa bercerita banyak. Di dusun saya, koran ini belum begitu banyak yang baca, kalah telak dengan koran terbitan lokal.
Jika menginginkan informasi terbaru kan sudah ada radio dan tv? Jadi untuk apa ada koran siang? Dibanding radio dan tv, koran tetap menyimpan kekuatannya. Sifat radio dan tv hanya menyajikan informasi sekelebat saja, kita tidak bisa mengulang informasi yang terlewat, penulisan naskah berita dalam radio dan tv menganut prinsip “keep it short and simple” alias tidak bertele-tele. Sedangkan dengan koran, kita bisa mengulang atau membaca kembali informasi yang terlewat dan terlupa. Kalau mau, anda bisa menyimpan halaman informasi tersebut, itulah yang disebut kliping. Informasi yang disajikan oleh koran biasanya juga lebih komplit dan mendetail.
Lalu bagaimana dengan internet, kan kita cukup berlangganan RSS-nya saja tho? Alasan klasik, di Indonesia belum banyak orang yang mempunyai sambungan internet di rumah, saya saja ngeblog masih lewat warnet.
Bagi khalayak, koran siang bisa menjadi alternatif lain dalam memenuhi kebutuhan akan informasi terbaru. Sedangkan bagi pemodalnya, koran siang juga berarti membuka lahan bisnis baru, orang Jawa bilang, "babat alas".
PS: Sepertinya saya tidak cocok membaca koran MI edisi siang ini, karena di iklannya tertulis: Untuk Anda yang muda, sibuk, cerdas, kritis, dan berpikiran global. Saya memang muda, tapi tidak sibuk, tidak cerdas, tidak kritis, dan tidak berpikiran global. 
 Blog bukanlah media alternatif yang tanpa resiko sama sekali. Herman Saksono pernah berurusan dengan polisi gara-gara salah satu posting di blognya. Blog sendiri sebenarnya tidak memiliki kode etik khusus, berbeda dengan halaman jurnalistik. Objektivitas, netralitas, dan kebenaran, banyak blog tidak memilikinya. Ya, blog memang bukan barang suci. Anda mau nulis apa saja di blog, bebas dan hampir tanpa batas. Itulah salah satu alasan kenapa blog bisa menjadi media alternatif yang berkembang dengan cukup pesat, baik kuantitas maupun kualitas, ini terlepas dari pendapat seseorang bahwa blog hanya tren sesaat. Tapi setelah saya membaca satu berita singkat dalam halaman Jagat 24 Jam Harian Media Indonesia Sabtu (23/2) kemarin, saya berubah pikiran: ternyata blog nggak bebas-bebas amat, dan tulisan pada paragraf ke-2 di atas tak lagi berlaku. Kabarnya Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Azalina Othman, menyebut para blogger sebagai pengecut dan memperingatkan akan diawasi. Gara-garanya partai oposisi di Malaysia banyak yang beralih ke blog untuk berkampanye dan mengeluarkan opininya. Kenapa musti lewat blog? Yah, seperti kita tahu, media massa di Malaysia diawasi dengan cukup ketat oleh Pemerintahnya, tidak sebebas di Indonesia. Saat media massa sudah mulai dikekang oleh kekuasaan dan pemodalnya juga dekat dengan penguasa, maka blog bisa menjadi media lain yang cukup efektif, meski pengaksesnya tak sebanyak media massa "old fashion". Saya jadi teringat dengan nasib Nila Tanzil sekitar setahun yang lalu. Dia kehilangan posisinya sebagai presenter salah satu acara di SCTV gara-gara tulisannya di blog yang bikin geram Menteri Pariwisata Malaysia, Tengku Adnan. Bahkan, Pak Menteri negeri serumpun itu juga mengatakan bahwa blogger adalah pembohong. Dua pernyataan yang mirip dari dua orang menteri yang berbeda, dan ditujukan kepada dua pihak berbeda. Penyataan dari Tengku Adnan lebih ditujukan kepada blogger asal Indonesia, sedangkan pernyataan dari Azalina Othman ditujukan kepada blogger di negaranya sendiri. Tak semua blogger itu adalah pengecut, banyak kok blogger yang sudah mulai membuka jati diri mereka sebenarnya, nama lengkap, pekerjaan, domisili, dan tak lupa memasang foto diri. Seandainya masuk DPO pun, mereka akan gampang terlacak oleh polisi. Blogger tentu sudah menimbang setiap posting yang bakal di-publish, menulis tidak sama dengan bertutur yang terkesan lebih spontan, menulis butuh kerja otak yang lebih. Menulis adalah tahapan paling akhir setelah mendengar, berbicara, dan membaca. Lalu bagaimana dengan tulisan atau posting yang “sembrono”? Setiap blogger tentu punya batasan dan ukuran nyalinya sendiri. Anda dan saya bisa berbeda pandangan. Blog di mata Pemerintah Malaysia telah menjadi sesuatu yang serius, patut diawasi, dan diwaspadai. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita belum terbelenggu, kawan! Kita orang merdeka, untuk itu mari kita berkarya…
“Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always bad men.” Lord Acton Rupanya nasihat dari Lord Acton tersebut tidak dihiraukan oleh dua orang yang pernah memimpin Indonesia, Sukarno dan Suharto. Kesalahan paling kasat mata antara keduanya adalah terlalu lama berkuasa dan otoriter. Dalam politik, kekuasaan adalah objek sentral, dan kekuasaan bisa menjadi sesuatu yang menggoda sekaligus mengiurkan. Tahun 1963 Sukarno diangkat sebagai presiden seumur hidup, dan dia tidak menolak. Sekitar 20 tahun Sukarno berkuasa, tapi ternyata kesalahan yang sama justru diulang kembali oleh Suharto, 30 tahun Suharto berkuasa, lebih parah ketimbang mantan atasannya. Pada saat itu memang belum ada peraturan yang membatasi berapa kali presiden boleh menjabat, sehingga tidak dianggap menyalahi konstitusi. Tapi, manusia yang menjadi pemimpin dan berkuasa begitu lama tanpa membuat noda, dosa, dan cela tampaknya tidak ada, kecuali dia sejajar dengan malaikat yang notabene tidak memiliki hasrat maupun nafsu. Syukurlah, masa jabatan presiden sudah dibatasi cuma dua periode. Sukarno terjebak dalam penyatuan ideologi yang sama sekali bertentangan melalui Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis). Sampai akhir jabatannya, Sukarno tidak mau membubarkan PKI karena dia konsisten dengan pendiriannya sejak tahun 1925 tentang Nasakom. Komunisme justru menjadi batu pijakan licin bagi Sukarno, dan menjadi alasan bagi “pihak lain” untuk “memenjarakannya” di Wisma Yaso. Sedangkan Suharto senang bermain-main dengan kekuasaan. Menurut Machiavelli, ”…it would be best to be both loved and feared. But since the two rarely come together, anyone compelled to choose will find greater security in being feared than in being loved”. Berdasar ajaran Machiavelli tersebut, Suharto bisa memainkan perannya dengan cantik, ditakuti sekaligus dicintai. Ditakuti oleh mereka yang mencoba menentang, dan dicintai oleh rakyatnya yang berpikiran simple (baca: gampang cari makan). Sayangnya, Suharto juga sibuk “menyuapi” orang-orang disekitarnya dan juga anak-anaknya, sampai akhirnya dia lupa bahwa sudah saatnya untuk pensiun. Seandainya saja, Sukarno dan Suharto mau melepas jabatan presidennya lebih awal, pasti akan terasa elegan. Tidak perlu ada konspirasi, intrik politik, dan anarkisme massa dalam rangka penggulingan kekuasaan otoriter. Sehingga, nama besar mereka akan dikenang dengan lebih anggun. Sukarno sang Founding Father dan Suharto sang Bapak Pembangunan, keduanya memimpin Indonesia pada masa yang berbeda, dengan jasanya masing-masing, tentu tak lepas dari kekurangan dan kesalahannya. Kita bisa belajar dari kesalahan masa lalu, dan menjadikannya sebagai sarana belajar bagi masa depan yang lebih baik. Jangan anggap ini sebagai petuah lama yang mulai membosankan. Ayo dong, sudah saatnya kita bangkit dan optimis. Kita dilahirkan sebagai putra bangsa! Bukan sebagai Sisyphus yang selalu gagal – dikutuk untuk mendorong batu besar ke atas gunung, namun ketika sampai di puncaknya, batu itu kembali menggelinding ke bawah. Merdeka!!! Ilustrasi: Britannica.com
Saya adalah generasi pasca revolusi yang bingung dengan sejarah bangsa sendiri
Entah sudah berapa banyak blogger yang menuliskan tentang kondisi Pak Harto saat ini, dan mengaitkannya dengan berbagai hal. Ada yang memihak, melawan, cover both sides, dan ada yang main aman berdiri di tengah. Saya tidak ingin membahas kondisi Pak Harto saat ini, lagipula televisi sudah menyiarkannya setiap waktu, lengkap dari berbagai sisi yang coba dikupas, dan terus di-update lebih dari laporan perkembangan pasar modal atau nilai tukar Rupiah terhadap Dollar. RSPP, Cendana, Kalitan Solo, hingga Astana Giri Bangun terus dipantau oleh jurnalis, mereka tak ingin kehilangan moment, begitu juga khalayak. Melalui posting ini saya mencoba membuka kembali memori kita tentang catatan sejarah Indonesia yang pernah kita dapatkan dari buku SD. Lebih tepatnya saya ingin menggiring anda pada satu ‘perkamen’ bernama Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Kenapa? Karena dengan adanya Supersemar, situasi politik di Indonesia mengalami perubahan, kekuasaan Bung Karno meredup, dan kekuasaan Jenderal Suharto meningkat. Supersemar dianggap sebagai penyerahan dan perpindahan kekuasaan. Supersemar adalah monumen awal duduknya Jenderal Suharto di kursi kepresidenan, lalu menjadi seorang pemimpin dan penguasa yang cenderung Machiavelli minded –mungkin Pak Harto juga sudah membaca Il Principe yang legendaris itu. Jika Supersemar memang begitu monumental, di mana keberadaannya sekarang? Jenderal M. Jusuf mengaku memiliki salah satu salinan Supersemar, namun hingga saat meninggalnya, ia tidak mau menunjukkan salinan tersebut kepada publik. Supersemar memang ditujukan kepada Jenderal Suharto (yang pada saat itu selaku Panglima Angkatan Darat), jadi seharusnya dia mengetahui makna dan keberadaan Supersemar. Lalu kenapa kita tidak bertanya saja kepadanya? Bukankah sungkan bertanya bisa tersesat di tikungan? Padahal ada kejutan di balik tikungan. Saya sudah mencoba melakukan googling, beberapa artikel saya dapatkan dari berbagai sumber. Artikel-artikel tersebut banyak mengungkapkan kontroversi seputar Supersemar. Hal ini membuat saya makin bingung. Setiap ada kesaksian baru, dibantah dengan kesaksian lain. Saking misteriusnya Supersemar, sehingga membuat surat itu menjadi semacam mitos, mana yang fakta, mana yang kibul, keduanya berbaur dan sama-sama kabur. Untuk mengetahui beberapa kontroversinya, silakan baca di wikipedia: Beberapa kontroversi tentang Supersemar Ada sebuah clue lain tentang Supersemar ini, clue itu ada dalam rekaman Pidato Kenegaraan Bung Karno pada Peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus tahun 1966, kabarnya rekaman ini ditemukan oleh Roy Suryo, berikut ini adalah kutipan dari pidato Bung Karno tersebut: "Surat Perintah Sebelas Maret itu mula-mula dan memang sejurus waktu, membuat mereka bertampik sorak-sorai kesenangan. Dikiranya SP Sebelas Maret adalah satu penyerahan pemerintahan, dikiranya SP Sebelas Maret itu satu Transfer of Authentic, of Authority, padahal TIDAK. SP Sebelas Maret adalah suatu perintah pengaman, perintah pengamanan jalannya pemerintahan. Demikian kataku waktu melantik kabinet. Kecuali itu, juga perintah pengaman keselamatan pribadi Presiden, perintah pengaman wibawa Presiden, perintah pengamanan ajaran Presiden, perintah pengaman beberapa hal…" Jika temuan Roy Suryo itu benar-benar otentik dan bisa dipertanggungjawabkan sebagai fakta sejarah, maka seharusnya bisa digunakan untuk ‘sedikit’ membuka selubung misteri seputar Supersemar. Sekaligus, ‘sedikit’ meluruskan catatan sejarah yang melenceng. Banyak catatan sejarah bangsa ini yang dibelokkan dan tidak lagi jujur, masyarakat sudah kadung menganggapnya sebagai suatu kebenaran, generasi pasca revolusi adalah generasi yang tumbuh tanpa landasan sejarah pasti. Generasi itu adalah generasi yang meraba-raba mencari kebenaran di tengah kegelapan dan centang-perenang sejarah bangsanya sendiri. Saat kaum nasionalis konservatif sudah mulai menghilang satu per satu, entah bangsa Indonesia akan jadi seperti apa. *sigh... PS: Orang di sebelah malah nggak mudheng apa itu Supersemar, dia taunya cuman semar mendem (semar mabuk). Ilustrasi: Semar.be
Saya yakin banyak yang kebingungan karena link “download” yang biasanya ada di sisi kanan list musik di MP kini sudah hilang. Apakah ini berarti kita tidak bisa lagi mendonlod musik di MP? Tenang, langit belum runtuh kok, matahari masih terbit dari timur, dan kita masih bisa mendonlod musik dari MP. Sebenarnya musik2 itu masih tersimpan di hosting-nya MP (selama mereka belum menghapusnya), link “download” itulah yang selama ini mengarahkan kita secara langsung menuju link tempat menyimpan file musik tersebut. Karena link “download” sudah sirna, maka kita harus mencari sendiri link penyimpanan musik. Caranya bgimana? Tak perlu bertanya kepada rumput yang bergoyang, Mama Lauren atau Ki Joko Bodo. Berikut ini caranya: Pertama - Dibagian bawah list musik pasti ada link “Play this playlist”, letakkan kursor di atasnya, klik kanan, lalu pilih “save target as…” untuk IE, atau “save link as…” untuk firefox. Dalam sekedipan mata, anda akan mendapat file dengan tipe “m3u”. 
Kedua - Bukalah file m3u tersebut dengan winamp. Dari winamp kita hanya bisa streaming musik, pilihlah dahulu lagu yang ingin didonlod. Pilih lagu dari winamp lalu pencet Alt+3, “select all” lalu “copy” alamat hosting.  Ketiga - Buka jendela browser baru, lalu "paste" di address bar, press "enter" 
Mulailah donlod, dan wallaaa, kita sudah mendapatkan file musik yang diinginkan. Agak ribet sih, tapi kita cuman butuh tiga langkah saja kok, jika sudah terbiasa pasti akan terasa mudah. Selamat mencoba, and enjoy the music!
PS: Saya merekomendasikan browser Mozilla Firefox
Kata Mas Sigit, tahun baru itu nggak ada yang spesial, kecuali cuma ganti kalender. Sudahkah Anda mengganti kalender yang ada di rumah dan kantor? Kalender biasanya kita dapatkan secara gratis, bisa pemberian dari bank, toko baju, bengkel, hingga partai politik. Gabungan antara sarana promosi dan CSR (Corporate Social Responsibility), mengingatkan hari dan tanggal – termasuk hari libur dan hari kerja – kepada masyarakat bisa juga dianggap bentuk pertanggungjawaban sosial.Bicara soal kalender alias tanggalan, saya sendiri lebih memilih kalender model jadul yang ukuran angkanya cukup besar, lengkap dengan hari pasaran Jawa – Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi. Menurut saya kalender semacam itu lebih fungsional dan angkanya mudah terlihat dari jauh, cocok untuk orang berkacamata minus seperti saya. Sebenarnya ada kalender yang angkanya jauh lebih besar lagi, yakni kalender model harian, tapi banyak diantara kita yang malas menyobeknya setiap hari. Tahun 2007 kemarin saya mendapat kalender 12 bulan penuh yang tercetak dalam satu lembaran saja. Kalender itu terlalu modern buat saya, hari Minggu warnanya tak lagi merah tapi sama dengan hari lainnya, bahkan tak ada keterangan hari libur nasional, angkanya juga terlalu kecil. Karena desainnya bagus, akhirnya kalender itu hanya menjadi hiasan dinding saja. Anda pasti pernah berkunjung ke sebuah warung makan yang memasang puluhan kalender di dindingnya dengan segala macam gambar, dari pemandangan alam, wanita, bunga, hingga mobil. Justru gambar-gambar dalam kalender itulah yang sering kita perhatikan, bukan tanggal atau harinya. Saya selalu penasaran, apa nggak capek membalik atau menyobek kalender sebanyak itu saat bulan demi bulan berganti. Apapun model kalender dan bentuk aplikasinya (jam tangan, ponsel, desktop komputer, hingga sidebar blog), fungsinya tetap saja sama, mengingatkan kita akan masa yang terus berjalan. Ada kemarin, hari ini, dan esok. Kesannya manusia seperti diatur oleh waktu, tapi itu tergantung kepada masing-masing individu untuk menilai keberadaan waktu, ada yang merasa bahwa hari-hari terasa cepat berlalu, ada juga yang merasa lambat dan lama. Selamat Tahun Baru 2008, kita mulai dengan berjuta harapan di bulan Januari.
Apakah anda pernah meminum air P(D)AM yang keluar dari keran di rumah tanpa dimasak? Kalau belum, berarti kita sama warasnya. Mencoba melakukannya di rumah bisa berarti menyiksa diri, “don’t try this at home” masih berlaku. Seorang saudara yang kuliah di luar negeri saat balik ke Indonesia pernah mempraktekkan kebiasaan barunya, meminum air keran, itupun karena lupa, untungnya dia langsung ingat dan air yang diminumnya belum mencapai pencernaan. Kata ‘air minum’ yang ada di dalam kepanjangan P(D)AM tak memberikan jaminan aman untuk langsung diminum tanpa dimasak. Konon air yang diproduksi oleh perusahaan air minum memang aman untuk langsung dikonsumsi, tapi karena instalasi pipa yang mengalirkan air ke rumah-rumah itu sudah terlalu tua, maka air kembali terkontaminasi. Itu baru sebatas ‘konon’ lho, karena blog ini bukan halaman jurnalistik, maka kata ‘konon’ boleh saja disisipkan. Saya tak tahu apakah air yang keluar dari keran di hotel bintang lima dan apartemen mewah sekelas Senayan City sudah aman untuk langsung diminum atau belum. Kalau anda tahu, boleh lah berbagi di sini. Jumat sore kemarin saya melintas di depan kantor PDAM Solo, tepat di tiang-tiang pagarnya disediakan air yang bisa langsung diminum. Saya penasaran, lalu mampir sejenak untuk ‘nyicip’ dan mengambil gambar. Sempat ragu untuk mencobanya, karena memang tidak pernah sebelumnya. Orang lain yang saat itu juga mengisi botolnya, kelihatannya tak begitu khawatir untuk meminumnya, saya memberanikan diri. Gimana rasanya? Yang namanya air putih ya nggak ada rasanya dong, emangnya air jeruk. Dan setelah meminumnya, ternyata pencernaan saya aman-aman saja, tidak mules-mules, berarti memang layak untuk langsung diminum. Harusnya fasilitas seperti ini perlu ada di tempat-tempat publik, seperti yang kita lihat dalam film-film barat, ada keran khusus untuk air minum, mancurnya ke atas, bukan ke bawah, air bisa langsung masuk ke mulut. Bukankah Indonesia itu termasuk dalam wilayah tropis yang panas? Sudah pasti banyak orang bakal kegerahan dan kehausan jika terlalu lama berada di luar ruangan, air minum gratis di tempat umum pasti sangat bermanfaat, daripada kita beli Aqua (baca: akua) gelasan dan literan. Lagi pula kita bisa irit duit, dan mengurangi sampah plastik bekas kemasan air mineral. Entah sejak kapan keluarga tingkat menengah beralih menggunakan air mineral dalam galon, mahasiswa seperti Koboi Urban pun sedia air mineral galonan di dalam kamar kosnya. Praktis, karena tak usah lagi menjerang air, adalah alasan utama. Sedangkan alasan peduli kesehatan bisa berada di urutan kedua, toh tiap keluarga dan individu punya standarisasi kesehatan masing-masing. Depot isi ulang air mineral pun menjamur, dan merek terkenal seperti Aqua mulai banyak yang dipalsukan. Konsumen masih ragu apakah air P(D)AM sudah siap minum, karena nyatanya memang baru sebatas siap dipakai mandi dan mencuci. Untuk mengadukan masalah ini ke YLKI, anda harus punya nyali setajam belati. Orang di sebelah bilang, “Lha wong, air keran mengalir lancar saja sudah untung, kok malah menuntut minta air siap minum segala”. 
Bagaimana menyikapi ajakan Wiranto? Saat saya menyebut “sarimi” mungkin anda langsung teringat pada salah satu produk mi instan, tapi bukan itu yang saya maksud. Sarimi (33) adalah seseorang, dia dan keluarganya hanya bisa makan nasi aking, karena harga beras dirasa terlalu mahal, sedangkan Saroni (35) suaminya tak lagi bekerja. Mereka adalah potret keluarga miskin Indonesia. Kisah tentang Sarimi dan keluarganya ini ditulis di Kompas pada 9 Februari 2006, saya juga belum membacanya secara langsung, hanya mendapati cuplikannya dari space iklan Kompas (15/11) yang ditempati oleh Wiranto, berbagi ruang dengan surat pembaca. Individu yang bisa memasang iklan di harian nasional sebesar Kompas hingga setengah halaman tentu bukan orang sembarangan, dan hanya orang sekelas Wiranto yang bisa. Kalau iklan itu atas nama korporasi, apalagi perusahaan rokok, kita tak perlu nggumun. Melalui iklan ini, Wiranto mengajak kita untuk bergabung dalam sebuah gerakan moral dengan nama Bersatu Sejahterakan Rakyat, yang meliputi tiga hal: ciptakan 10 juta lapangan kerja, murahkan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, tumbuhkan ekonomi melalui pemerintahan yang kuat dan tegas. Sungguh ajakan yang begitu mulia, bukan? Sayangnya, iklan ini tak memberikan cara-cara bagaimana kita mengiyakan ajakan Wiranto tersebut, tak ada formulir yang bisa diisi, nomor telepon, alamat pos surat, email, atau website yang bisa dituju, apalagi hiperlink – teknologi media cetak memang tak sampai kesitu ding. Dalam hal ini, iklan dari Wiranto memang kalah canggih dengan iklannya paranormal sakti. “Lalu apa maksud Wiranto dengan memasang iklan ini?” Ya, itu tadi mengajak kita semua untuk ikut dalam gerakan mulia. “Kok musti pake foto dirinya segala?” Kan yang pasang iklan dia sendiri, terserah dia dong mau pasang foto dirinya atau foto mbahnya, kalau sampeyan juga mau nampang di setengah halaman Kompas ya tinggal bayar space-nya, asal jangan di bagian obituari. “Tapi, kok iklannya itu mirip kampanye capres sih?” Huusss, sudah dibilang itu tadi ajakan untuk melakukan sebuah gerakan moral kok, tentu lain dong dengan ajakan yang berbau politik, kalau ajakan politik pasti bunyinya: Ayo, coblos gambar saya! Bla bla bla. Lagi pula saat ini masih terlalu ‘pagi’ untuk ngomongin pemilu, mumpung masih pagi mendingan kita ngopi-ngopi dulu, sembari nonton infotainment yang lebih juicy ketimbang obrolan politik, siapa tahu ada kelanjutan kisah Ahmad Dhani dan Maia. “Atau mungkin Wiranto pengen menjadi sosok Dewi Kunthi bagi negeri ini, yang muncul untuk mengusir Sang Kala si pembawa bencana? “ Gimana sih, yang namanya Dewi ya jelas perempuan dong, Wiranto kan lelaki sejati, kalau Dewi Kunthi mungkin cocoknya untuk Megawati. “Kalo gitu, mungkin dia pengen jadi Kresna, titisan Betara Wisnu yang punya Kaca Lopian untuk menjawab semua masalah itu ya?” Bah, mana saya tahu, bung! Setahu saya, dia itu Jenderal purnawirawan dan pernah ikut nyalon presiden tapi gagal masuk final, cuman sampai semi-final saja. “Jadi, gimana dong kita menyikapi ajakan Wiranto ini?” Itu sih terserah sampeyan, lha wong saya sendiri lagi sibuk nggarap skripsi, belum sempat menentukan sikap. “Trus, gimana kira-kira nasib Sarimi dan Saroni sekarang?” Lha mbuh ora weruh. Kita doakan saja semoga Sarimi dan Saroni, serta keluarga miskin lainnya di Indonesia bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dengan lebih baik dan bisa makan dengan layak, minimal nasi putih dengan lauk secuil daging. Tapi, kalau sampeyan punya duit lebih, ya jangan cuman nyumbang doa doang, berbagilah sedikit dengan mereka. “Wah, omongan anda yang terakhir itu kok seperti ceramah sih, lagi belajar jadi ustad ya?” Wooo, sontoloyo… 
Lampu lalu lintas menyala hijau, sesuai dengan hapalan sewaktu TK dulu, hijau artinya boleh jalan. Saya pun menarik gas dari setang motor, tapi dari arah lain ada motor berlari kencang yang nekat menerobos lampu merah, si pelanggar ini justru membunyikan klakson panjang, meminta disediakan jalan untuknya. Itu bukan pengalaman pertama bagi saya, tapi yang kesekian kalinya – tanpa mampu menyebut hitungan pasti. Tentu saja saya kesal dan menggerutu, sedangkan pengendara lain ada yang sampai misuh-misuh. Apakah perilaku melanggar seperti itu memang sudah menjadi watak banyak orang Indonesia, lalu kita menyebutnya “Indonesia banget”? Kalau saya jawab “iya”, pasti banyak orang di luar sana yang bakal protes, baik blogger maupun bukan. Yang salah justru merasa benar, itu tak cuma ada di jalanan, yang beginian juga ada di ruang-ruang partisi lainnya, dari menerobos antrian di tempat kakus umum, hingga gontok-gontokan beraroma politik. Di jalan raya memang banyak orang pandir yang sak-sake memacu kendaraannya tanpa mau mempedulikan nasib pengguna jalan lainnya, ada baiknya kita – yang insyaallah masih waras ini – tak perlu ikut-ikutan. Namun, arus yang salah kadang lebih banyak pengikutnya, banyak teman lebih aman, padahal temannya itu gombal semua. Meski menjadi mayoritas, tapi semoga itu bukan alasan bagi pembenaran. Banyak lampu merah kini sudah dilengkapi panel LED canggih yang menampilkan angka menghitung mundur, rasanya hanya akan menjadi barang mubazir saja kalau para pengguna jalan masih bermental melanggar aturan.
 “Kafein itu seperti cewek cantik yang bodoh. Dia membuat kita semangat, tapi kemudian kita merasa dangkal dan kosong. Daripada minum delapan gelas Starbucks, sekalian saja mengisap kokain”. Adam Levine – vokalis Maroon 5 –, Rolling Stone Indonesia Oktober 2007 Saking dahsyatnya efek kafein dalam kopi, maka Adam Levine sampai mensejajarkan delapan gelas kopi dengan kokain! Seringkali kita menyeruput kopi dengan sedikit rasa bersalah, kopi dianggap sebagai minuman yang tidak sehat. Benarkah kopi berakibat buruk bagi kesehatan? Dari literatur yang pernah saya baca, kopi masih berefek positif asalkan kita mengkonsumsinya dengan takaran wajar dan tidak berlebihan. Satu cangkir kopi rata-rata mengandung 100 mg kafein, dosis kafein sebanyak 300 mg dalam sehari belum berefek negatif, itu artinya 3 cangkir kopi dalam sehari masih dalam taraf aman. Dosis kopi yang sangat besar, yakni setara dengan sepuluh cangkir kopi kental yang diminum berturut-turut akan menghasilkan efek beracun, seperti muntah, demam, kedinginan, dan kebingungan mental! Dan dosis kafein yang mematikan adalah seratus cangkir kopi atau 10 gram kafein. Masuk akal juga jika Adam Levine menganggap delapan gelas Starbucks setara dengan kokain. Meski begitu, efek positifnya juga ada. Pada awal sejarahnya kopi digunakan cendikiawan Muslim sebagai obat. Meminum kopi menjadikan aliran pikiran berjalan lebih cepat dan jernih, serta tentu saja mengusir rasa lelah dan kantuk. Dengan kopi seseorang bisa meraih pencapaian intelektual yang lebih tinggi. Mari kita minum kopi! Dalam dosis yang wajar tentunya. PS: Saya mengetik posting ini sembari ditemani secangkir kopi Toraja bikinan Aroma Koffie Fabriek Bandung, oleh-oleh dari si alumnus ITB. Ilustrasi: boston.com
Saat lebaran lalu, saya melintas di depan rumah seorang mantan Lurah. Halaman rumahnya yang tak seberapa luas dipenuhi dengan tujuh buah mobil, tak ada lagi yang tersisa kecuali jalan setapak akses menuju rumah. Anak-anaknya yang bekerja di Jakarta pulang kampung dengan membawa keluarganya masing-masing, dan mobil adalah pilihan alat transportasi yang nyaman untuk mengangkut satu keluarga. “Wah, pasti anak-anaknya sukses semua di Jakarta”, sebuah asumsi yang hadir begitu saja di benak saya hanya dengan melihat banyaknya mobil yang terparkir di halaman rumah. Ini sekedar asumsi saja, dan saya tidak perlu berlagak menjadi wartawan untuk menanyakan apa pekerjaan anak-anaknya di Jakarta dan berapa penghasilan mereka per bulan. Di Indonesia, tolok ukur kesuksesan bisa dilihat dari ‘sudah mampukah dia membeli mobil’ dan ‘berapa mobil yang dia punya’. ‘Sudah memiliki’ dan ‘belum memiliki’, keduanya berbeda dan berdampak pada stigma yang melekat pada masing-masing individu. Anggapan sederhananya, yang sudah punya mobil tentu lebih kaya dibanding yang tidak punya mobil, yang sudah punya dua biji tentu lebih berduit ketimbang yang baru punya satu. Dalam konteks Indonesia, saya rasa anggapan ini selalu benar adanya, atau minimal dapat dibenarkan. Naik BMW keluaran terbaru tentu lebih kece ketimbang naik Suzuki Carry, fungsi keduanya sama, tetapi merek dan harga mobil seolah mempengaruhi strata sosial dan ekonomi pemiliknya. Ini menjelaskan bahwa mobil selain sebagai alat transportasi, sekaligus juga bisa merambah pada makna lainnya, seperti simbol kesuksesan dan prestise. Sama halnya ketika pesawat televisi awal kali dikenal di Indonesia, fungsinya tak cuma sebagai media hiburan dan informasi, tapi juga mendongkrak gengsi. Memiliki mobil tak melulu soal kebutuhan akan alat transportasi. Kalau saja angkutan umum di Indonesia sudah bagus, minimal senyaman Trans Jakarta, saya kok tetap tidak yakin penggunaan mobil pribadi bisa dikurangi. Orang kaya di negeri ini masih bertinggi hati untuk berkendaraan umum. Kalau sudah begitu, mobil telah terpisah dengan fungsi dasarnya, yakni memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Makna ganda mobil, akan selalu “membebani” pemiliknya. Makna ganda ini pula yang dibawa oleh orang-orang Jakarta saat mudik menggunakan mobil ke kampung halamannya. Meskipun tak semuanya berniat pamer mobil, tapi orang kampung tetap menganggap mobil sebagai sebuah simbolisasi kesuksesan di kota besar. Pandangan tersebut mungkin belum berubah saat orang kampung itu sudah menjadi bagian dari masyarakat kota – masyarakat yang katanya urban dan kosmopolit. Di tengah rasa sungkan untuk menyoal kesenjangan ekonomi dan kecemburuan sosial yang masih tinggi di negeri ini, mobil-mobil kelas premium justru makin banyak wira-wiri di jalanan Indonesia, khususnya Jakarta. Di acara otomotif televisi, saya pernah lihat mobil-mobil Ferrari berkonvoi ria di jalanan Ibu Kota. Katanya Jakarta itu sering macet, tapi Ferrari tetap saja dibeli. Ah, paling dia cuman bisa ngebut di tol, kalau perlu menyewa Sentul untuk balapan sendirian, toh dia banyak duit. Saat kecepatannya tak mampu dipamerkan di jalanan umum, maka wujud Ferrari itupun tetap bisa dipamerkan di muka umum, bahkan saat diparkir di pinggir jalan. Sebuah harga mahal yang musti dibayar agar bisa dibilang “bergengsi”. Mobil sebagai alat transportasi, dan mobil sebagai pengangkat citra diri, keduanya selalu berada dalam posisi tawar-menawar.
 Kebanyakan orang Indonesia menyebut tradisi bagi-bagi uang pada hari lebaran sebagai salam tempel, sedangkan orang Jawa menyebutnya duit fitrah. Yang tua memberikannya kepada muda, yang sudah bekerja memberikannya kepada yang masih sekolah. Yang memberi tersenyum senang, dan yang menerima tersenyum girang. Meskipun tak ada yang mewajibkan tapi tradisi terus berlanjut tiada henti, tak hilang dimangsa jaman. Karena itulah, beberapa orang mulai melirik tradisi ini sebagai lahan mencari tambahan untuk berlebaran. Mereka menawarkan jasa penukaran uang kecil di pinggir jalan, untuk jasanya mereka tentu mengambil untung. Berbeda dengan menukarkan uang di warung, selembar uang sepuluh ribu rupiah bisa ditukar dengan sepuluh lembar seribuan, jumlahnya tetap sepuluh ribu rupiah, tiada lebih, tiada kurang. Di beberapa tepi jalan kota Solo, antara lain di daerah Gladak , Jalan Sudirman, dan Manahan, anda bisa menemukan jasa penukaran uang dadakan ini. Tidak perlu menguji kesabaran dengan mengantri di BI, tapi untuk itu ada harga yang musti dibayar, silakan tawar menawar kalau mau. Lebaran bisa disebut sebagai sebuah momentum dimana banyak orang berlomba tuk memberi, bukan hanya soal memberi uang, zakat, dan materi. Memberi maaf dan kasih sayang justru lebih bernilai dan berarti. Sebuah nilai keikhlasan yang semoga tak cuma ada setahun sekali, alangkah indahnya jika kita bisa mendapatinya setiap hari. PS: Saya masih menerima salam tempel, kalau tidak bisa ketemu langsung, silakan kirim lewat wesel atau transfer.
 "I think [The Godfather] is a perfectly-executed book, with great invention of story." Mario Puzo Kata “mafia” menjadi lebih sering digunakan oleh media massa Indonesia dibanding beberapa tahun sebelumnya. “Mafia” biasa dipakai untuk menggambarkan sosok kriminal kelas atas dan memiliki kekuasaan yang sangat berpengaruh, sebut saja mafia peradilan, mafia pembabatan hutan, mafia judi, dan lain sebagainya. Orang Sisilia justru menganggapnya sebagai high-class behavior dan dikagumi, terlepas dari sisi kriminalnya. Bicara tentang mafia tentu tak lengkap tanpa menyebut satu nama legendaris, yakni Don Vito Corleone. Meskipun hanya sosok fiksi yang dibuat oleh Mario Puzo, tapi Don Vito tetap dianggap sebagai representasi dari para mafia keturunan Itali yang tinggal di Amerika. Karena penggambaran yang detail tentang sosok mafia dan lika-liku organisasinya, Mario Puzo pernah dianggap benar-benar terlibat dalam jaringan mafia, padahal dia mengaku hanya melakukan riset pustaka saja. Penulis handal ini berpedoman menulis jernih seperti berbicara dan secara dramatis seperti bertutur. Buku yang diterbitkan pada tahun 1969 ini pernah berada di peringkat pertama daftar buku terlaris New York Times selama 67 minggu dan terjual lebih dari 21 juta kopi! Salah satu kopi dari cetakan pertama novel ini ternyata bisa ditemukan di Perpustakaan Pusat UNS Solo, dan masih boleh dipinjam oleh mahasiswanya. Fisik buku ini masih baik, tidak ada halaman yang rusak dimakan ngengat, meski sampul depannya sudah digantikan dengan hasil fotokopi. Sayang, di dalamnya sudah banyak coretan dan beberapa ujung halamannya sengaja dilipat menjadi dog’s ear sebagai pembatas halaman. Saya belum mampu menuliskan lebih banyak tentang bagaimana cerita yang ada dalam novel ini, maklum saya sedang tidak bisa menyediakan waktu untuk membaca novel setebal ini, yang berbahasa Inggris pula. Lalu kenapa dipinjam kalau tidak dibaca? Bukan saya yang meminjam, melainkan seorang saudara yang membutuhkan novel ini untuk kajian skripsinya, dia sedang meneliti sisi psikologis dan karakteristik Michael Corleone, anak dari Don Vito Corleone. Sungguh skripsi yang bermutu, tidak kacangan semacam yang saya bikin. JUDUL: The Godfather | PENGARANG: Mario Puzo | PENERBIT: G. P. Putnam's Sons, New York, 1969 | TEBAL: 448 halaman | HARGA: Priceless
Orang yang merdeka boleh memilih diantara beberapa pilihan. Dan memutuskan untuk ngeblog atau tidak adalah juga soal pilihan, masing-masing punya alasannya sendiri. Saya sendiri bertanya-tanya, pantaskah saya memiliki sebuah blog dan mengisinya dengan tulisan-tulisan dangkal, lalu sekonyong disebut blogger? Lalu apa untungnya ngeblog, jika beberapa orang masih menganggapnya membuang waktu? Sekali lagi ini adalah soal pilihan, bung! Saya tak pernah yakin bahwa tulisan-tulisan saya di blog bakal dibaca orang. Saya mencoba realistis, di Indonesia yang belum lama lepas dari buta aksara ini, membaca masih dianggap berat untuk dijadikan suatu kebiasaan. Membaca yang saya maksud adalah membaca sebagai sarana bagi pembelajaran diri, kalau perlu perubahan pola berpikir sekalian. Orang yang menenteng KOMPAS belum tentu membaca straight news, opini, dan Humaniora, karena bisa jadi yang dia baca cuma skor sepakbola, jadwal acara televisi, atau bahkan obituari. Menulis di blog dengan tema apapun itu harusnya dibarengi dengan kebiasaan membaca, karena tanpa membaca akan menjadikan tulisan menjadi kering. You are what you read, begitu bunyi suatu kutipan. Dengan makin banyaknya orang membangun blog, semoga makin banyak pula orang di negeri ini yang gemar membaca. Maraknya budaya ngeblog tentu menjadi hal yang luar biasa di tengah masyarakat yang tidak membaca. Banyak blog bermunculan tapi kalau tanpa pembaca, tentu tiada guna dan memang benar hanya membuang waktu saja. Kalau sudah begitu, sosok blogger malah teralienasi dalam masyarakat yang tak membaca itu sendiri. Dari tulisan curahan hati di blog sekelas Friendster, hingga blog yang posting-nya lebih mirip tesis dan disertasi, semuanya berjalan beriringan. Pembaca yang budiman boleh menentukan mana yang bagus menarik, dan mana yang kacangan. Blog mana yang ingin dibaca, dan mana yang tidak, itu tergantung selera pembaca. Siapa saja yang membaca tulisan kita di blog, kita tak pernah tau, kecuali dia meninggalkan komentarnya, tapi toh berkomentar tak ada yang mewajibkan. Kepuasan seorang blogger adalah saat posting atau tulisannya dibaca dan terbaca oleh orang lain, seperti halnya “didengar” yang lebih asyik ketimbang “mendengar”. Kalau ternyata suatu blog banyak dibaca orang dan begitu populer lalu bisa dibukukan, itu adalah rejeki dari Tuhan, yang jelas rejeki semacam ini tidak semua blogger bisa ketiban. Tentu karena tidak setiap blog pantas dibukukan. Saya tidak bisa memprediksi apakah blog itu hanya sekedar tren semata atau justru menjadi sebuah awal gerakan menulis dan membaca di tengah masyarakat. Alasan saya ngeblog adalah ingin belajar menulis, menyalurkan uneg-uneg, dan membunuh lamunan. Meski beberapa orang menganggap ngeblog sebagai membuang waktu, tapi saya berharap alasan untuk tetap ngeblog bukanlah suatu pilihan yang keliru. Dengan ngeblog, kita menjadi ada!
Kuis di televisi sekarang ini memang semakin menggiurkan hadiahnya. Saat Family 100 AN TV di tahun ‘90an memberikan hadiah sebesar seratus juta rupiah, masyarakat kala itu sudah menganggapnya luar biasa dan berdecak kagum. Lalu bandingkan dengan kuis-kuis masa kini seperti Super Deal dan Deal or No Deal yang mampu memberikan hadiah berupa uang sampai dengan 2 milyar! Selama Ramadan ini, banyak pula kuis-kuis yang bertebaran di berbagai jenis program, dan beberapa kuis Ramadan itu telah mengalami pergeseran, baik dari segi jumlah uang yang dimenangkan maupun tata cara “bermainnya”. Dilihat dari hadiahnya, tentu hadiah yang diberikan menjadi lebih besar ketimbang tahun-tahun sebelumnya, hadiah berupa paket umroh atau sepeda motor adalah hal lumrah. Dari segi cara dan aturan main pun berbeda. Dulu hanya ada satu cara konvensional, pihak penyelenggara kuis – dalam hal ini stasiun televisi – membuka line telepon terbuka untuk siapa saja yang tertarik untuk ikut. Sehingga siapa yang paling cepat memencet nomor telepon dan bisa menembus padatnya saluran masuk, lalu bisa menjawab pertanyaan adalah orang yang berhak mendapat hadiah. Sistem semacam itu sudah mulai berubah, ada cara baru yang mengharuskan calon peserta kuis untuk terlebih dahulu mengirim SMS registrasi kepada pihak penyelenggara dan kemudian mendapatkan nomor PIN. Nah, nomor PIN inilah yang kemudian akan diacak oleh pihak penyelenggara untuk mencari peserta yang beruntung dan akan dihubungi. Beberapa program acara selama Bulan Ramadan yang mengadakan kuis dengan sistem seperti itu, antara lain Stasiun Ramadan RCTI, Kuis PPT SCTV, dan Komedi Putar TPI. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menilai kuis Ramadan yang menggunakan sistem semacam itu, identik dengan judi yang diharamkan dalam Islam. Tarif SMS premium yang mencapai 1000 rupiah untuk sekali kirim bisa dianggap sebagai pemasukan bagi pihak penyelenggara, dan kemudian hadiah bagi peserta kuis diambil dari sebagian uang yang masuk ke pihak penyelenggara. 1000 rupiah yang dikeluarkan oleh peserta bisa dianggap sebagai uang taruhan. Itung-itungannya adalah, semisal biaya pengiriman satu SMS mencapai 250 rupiah, sedangkan sisanya sebesar 750 rupiah dibagi dua antara pihak penyelenggara dan provider seluler. Jadi pihak penyelenggara mendapat pemasukan 375 rupiah per registrasi SMS, seandainya ada 3 juta orang mengirim SMS registrasi, berarti 1,125 Milyar masuk ke “kantong” penyelenggara. Angka sebanyak itu tentu lebih dari cukup untuk sekedar menyediakan hadiah-hadiah berupa paket umroh, kendaraan roda dua, atau bahkan mobil untuk setiap satu kali penyelenggaraan kuis. Pihak penyelenggara kuis, yakni stasiun televisi dalam hal ini mempunyai posisi yang sama persis dengan bandar dadu. Dia mendapat uang taruhan dari para peserta, lalu melakukan pengocokan dadu, dan peserta yang jitu tebakannya akan mendapat sejumlah uang berlipat dari taruhan awal. Sejumlah uang yang dimenangi itu diambilkan dari kontribusi/taruhan peserta lainnya. Dari 3 juta peserta yang mengikuti kuis tadi hanya 3-4 orang saja yang bisa mendapat hadiah, sedangkan berjuta peserta sisanya cuma bisa gigit jari. Lalu sisa uang yang masih terlalu banyak itu akan kembali menjadi milik penyelenggara, dimana-mana bandarlah yang selalu untung, dan pesertanya yang buntung. Permainan judi yang dilarang dalam Islam itu juga berada di peringkat keempat dari mo-limo, lima hal terlarang dalam pemikiran Jawa: madat (mencandu narkoba), madon (main PSK atau perempuan), minum (nenggak air api), main (judi), maling (termasuk korupsi). Bulan Puasa harusnya menjadikan manusia semakin dekat kepada kebaikan dan menjauhi yang jelek, pun ini itu yang dilarang. Toh diluar Bulan Puasa, judi dan “rekan-rekannya” tetap saja dilarang oleh agama. Posting ini hanya sekedar wacana saja, anggap saja sebagai posting yang sok tau, pembaca yang budiman boleh mengangguk setuju atau justru menggerutu tak setuju, keduanya bisa dituliskan di kotak komentar dan saling beradu. Yang jelas, saya bukan ahli urusan agama, apalagi seorang ustad, tentu masih jauh dari itu, swear dech! Selamat Berpuasa...
“Wah, suara penyiarnya oke nih. Kira-kira wajahnya se-oke suaranya nggak ya?”. Seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ada di benak kita saat mendengarkan suara penyiar kesayangan di radio, sebuah gambaran “intimnya” hubungan antara pendengar dan penyiar. Sebuah ikatan emosional antara pendengar dan penyiar bisa terjalin, loyalitas pendengar terhadap satu radio kesukaannya pun terbangun dari situ. Radio memang lebih demokratis dibanding televisi swasta nasional yang seragam pada pilihan-pilihan program. Karena radio memang memiliki lebih banyak karakter yang spesifik, ada radio yang khusus menggeber musik dangdut, geser gelombang sedikit sudah ada radio dengan gaya siaran metropolis kosmopolitan, geser frekwensi lagi kita akan menemui radio khusus siaran berita, di sebelahnya sudah ada radio yang sangat feminis, dan di ujung sudah ada radio yang melulu ngomongin info lalu lintas. Disini target audience maupun positioning-nya sudah jelas, dan yang beginian tidak kita temui di televisi. Penonton televisi hanya loyal pada program yang ditayangkan, bukan pada stasiun TV-nya. Orang akan mendengarkan radio yang siarannya cocok dengan kuping atau preferensi pribadi masing-masing. Ada pendengar yang cocok dengan radio yang memutar musik terus, dan ada juga yang suka mendengar suara si penyiar saja. Cocok-cocokan penyiar di kuping pendengar pun lain-lain adanya, ada pendengar yang suka dengan gaya penyiar gaul ala ABG, penyiar bersuara merdu lembut mendayu, penyiar bersuara renyah, atau penyiar dengan suara mantab khas penyiar RRI. Apapun tipe suara dan gaya siaran sang penyiar, yang jelas pendengar akan selalu kangen dengan penyiar idola dari stasiun favoritnya, sehingga mendengarkan radio bisa menjadi semacam ritual, pendengar bisa kecewa jika terlewat. Jadi, jangan kaget kalau Bens Radio – radio nomor satu di Jakarta – mampu menjaring 4,2 juta pendengar pada tahun 2006, tentu kebanyakan dari angka itu adalah pendengar setia. Orang-orang beroda empat di kota-kota besar yang setiap saat selalu terjun dalam rimba kemacetan jalanan, banyak menggunakan radio sebagai pembunuh sepi. Inilah kekuatan radio yang belum tertandingi oleh televisi, paling tidak untuk situasi di dalam mobil. Di dalam mobil yang terjebak kemacetan, radio bisa menjadi media yang cukup personal, seolah pengemudi merasa ditemani, ditemani oleh lagu-lagu favorit maupun penyiar kesayangan. Sedangkan di rumah, radio kembali hanya bisa “bergerilya” melawan kekuatan audio-visual televisi. Saat ini, radio sebagai media yang terkesan sederhana, tidak angkuh, dan low profile itu hanya mendapat perolehan belanja iklan sekitar lima persen saja dari total belanja iklan di Indonesia. Masa keemasan radio di Indonesia memang sudah lewat, digantikan oleh televisi, tapi percayalah bahwa masih banyak orang yang setia mendengarkan radio dan menanti sapaan ramah dari penyiar-penyiar yang selalu dikangeni. Radio, someone still loves you! PS: Posting tentang radio semacam ini akan lebih enak dicerna jika ditulis oleh Rane, dia orang radio. Ilustrasi: repro dari majalah Cakram
 Pada saat dimana masih banyak orang yang bersusah payah mencari lahan pekerjaan, seorang tetangga saya justru menciptakan sebuah pekerjaan unik untuk dirinya sendiri. Yakni sebuah bisnis jasa penyediaan mobil lelayu, dengan bermodalkan sebuah ambulans bekas dia sudah bisa membangun usahanya. Tak hanya itu, dia juga menyediakan jasa charter bus lelayu dan menjual beragam jenis kijing (peti mati). Bisnis ubo rampe (perlengkapan) kematian sebenarnya bisa sangat menggiurkan, karena dalam adat tata laku yang dipegang oleh orang Jawa, perlengkapan kematian tersebut tidak boleh ditawar saat pembelian. Berapapun harga yang dipatok oleh si penjual, kita harus dengan ikhlas membayarnya tanpa proses tawar menawar, orang Jawa bilang: ora elok (tidak baik). Banyak wirausahawan yang berdoa dengan sepenuh hati agar usahanya bisa mendatangkan keuntungan sebanyak bisa digali. Tapi untuk pebisnis ubo rampe kematian, berdoa dan memohon kelancaran rejeki kepada Tuhan bisa jadi sangat dilematis, di satu sisi dia butuh uang untuk menafkahi diri sendiri dan keluarga, tapi di sisi lain secara tidak langsung juga berharap agar banyak orang semakin dekat dengan jemputan maut. Terlepas dari anggapan miring itu, bisnis ini masih termasuk halal untuk dilakoni dan bisa mendatangkan rejeki yang berkah, jauh lebih baik dibanding orang necis berdasi bermental kecu (maling) yang korupsi sana sini. Mungkin dia sudah lupa bahwa suatu saat nanti juga bakal membutuhkan perlengkapan kematian untuk melengkapi ritual penguburan. Anda dan saya bisa saling mengingatkan.
| |